Minggu, 04 Maret 2018

Laporan Praktikum Fisika Farmasi Massa Jenis dan Bobot Jenis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pengetahuan tentang massa jenis dalam sebuah praktikum sangat penting mengingat bahwa pengetahuan tentang massa jenis akan selalu kita butuhkan dan selalu kita gunakan dalam praktikum lanjutan atau dalam pengaplikasiannya dalam penelitian.
Pengidentifikasian suatu zat kimia dapat diketahui berdasarkan sifat-sifat yang khas dari zat tersebut. Sifat-sifat tersebut dapat dibagi dalam beberapa bagian yang luas. Salah satunya ialah sifat intensif dan sifat ekstensif. Sifat tekstensif adalah sifat yang tergantung dari ukuran sampel yang sedang diselidiki. Sedangkan sifat intensif adalah sifat yang tidak tergantung dari ukuran sampel. Kerapatan atau densitas merupakan salah satu dari sifat intensif. Dengan kata lain, kerapatan suatu zat tidak tergantung dari ukuran sampel.
Untuk menentukan massa benda dapat dilakukan dengan menimbang benda tersebut dengan timbangan yang sesuai, seperti neraca analitik atau yang lainnya.
Bobot jenis didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat terhadap kerapatan air, harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama, jika tidak dengan cara lain yang khusus. Istilah berat jenis, dilihat dari definisinya, sangat lemah; akan lebih cocok apabila dikatakan sebagai kerapatan relatif.
Cara penentuan bobot jenis ini sangat penting diketahui oleh seorang calon farmasis, karena dengan mengetahui bobot jenis kita dapat mengetahui kemurnian dari suatu sediaan khususnya yang berbentuk larutan.
Air digunakan untuk standar untuk zat cair dan padat, hidrogen atau udara untuk gas. Dalam farmasi, perhitungan bobot jenis terutama menyangkut cairan, zat padat dan air merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai standar karena mudah didapat dan mudah dimurnikan.
Di samping itu dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan mempermudah dalam memformulasi obat. Karena dengan mengetahui bobot jenisnya maka kita dapat menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lainnya. Dengan mengetahui banyaknya manfaat dari penentuan bobot jenis maka percobaan ini dilakukan.


B.     TUJUAN PRAKTIKUM
Menentukan massa jenis dan bobot jenis dari air suling, gliserin, parafin, alkohol, minyak goreng dengan menggunakan piknometer dan hydrometer.

C.     MANFAAT PRAKTIKUM
Dapat menentukan massa jenis dan bobot jenis dari air suling, gliserin, parafin, alkohol, minyak goreng dengan menggunakan piknometer dan hydrometer.


D.    PRINSIP PERCOBAAN
a.       Penentuan bobot jenis dengan Piknometer
Penentuan bobot jenis suatu zat cair (aquadest, alkohol, gliserin, parafin, dan minyak kelapa) dengan metode piknometer, dimana ditimbanglebih dahulu berat piknometer kosong dan piknometer berisi zat cair yangdiuji. Selisih dari penimbangan adalah massa zat cair tersebut pada pengukuran suhu kamar (25°C) dan dalam volume konstan, tertera pada piknometer. Maka bobot jenis zat cair tersebut adalah massanya sendiri dibagi dengan volume piknometer, dengan satuan g/mL.
b.      Penentuan rapat jenis dan bobot jenis dengan metode Hidrometer 
Penentuan bobot jenis dan rapat jenis suatu zat cair (aquadest, alkohol, gliserin, parafin, dan minyak kelapa) dengan memasukkan zat cair kedalam gelas ukur 250 ml, lalu dimasukkan hidrometer dimana angka yang terbaca pada permukaan zat cair menunjukkan bobot jenis zat cair tersebut.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    TEORI UMUM
Massa jenis suatu zat adala perbandingan antara massa zat dibanding dengan volume zat pada suhu tertentu (biasanya 25° C). Rapat jenis (spesific gravity) adalah perbandingan antara bobot jenis suatu zat pada suhu tertentu (biasanya dinyatakan sebagai 25°/25°, 25°/4°, 4°/4°). Untuk bidang farmasi biasanya 25°/25°.
Kecuali dinyatakan lain dalam masig-masing monografi, penetappan bobot jenis hanya digunakan hanya untuk cairan, dan kecuai dinyatakan lain, didasarkan pada perbandingan boot zat di udara pada suhu 25° terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila suhu ditetapkan dalam monografi, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang ditetapkan terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25°C zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masing monografi, dan mengacu pada air yang tetap pada subu 25°C.
Menurut definisi, massa jenis adalah perbandingan yang dinyatakan dalam decimal, dari berat suatu zat terhadap berat dar standar dalam volume yang sama kedua zat mempunyai temeratur yang sama dan temperatur yang telah diketahui. Air digunakan untuk standar untuk zat cair dan padat, hydrogen atau udara untuk gas. Dalam farmasi, perhitungan bobot jenis terutama menyangkut cairan, zat padat dan air merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai standar karena mudah didapat dan mudah dimurnikan.
Berbeda dengan kerapatan, bobot jenis adalah bilangan murni atau tanpa dimensi, yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Bobot jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air pada suhu 4°C atau temperatur lain yang telah ditentukan.
Metode penentuan untuk cairan:
a.       Metode Piknometer
Prinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan ruang, yang ditempati cairan ini. Untuk ini dibutuhkan wadah untuk menimbang yang dinamakan piknometer. Ketelitian metode piknometer akan bertambah hingga mencapai keoptimuman tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Keoptimuman ini terletak pada seitar isi ruang 30 ml.
b.      Metode Neraca Hidrostatik 
Metode ini berdasarkanr hukum Archimedes yaitu suatu benda yang dicelupkan ke dalam cairan akan kehilangan massa sebesar berat volume cairan yang terdesak.
c.       Metode Neraca Mohr-Westphal
Benda dari kaca dibenamkan tergantung pada balok timbangan yang ditore menjadi 10 bagian sama dan disetimbangkan dengan bobot lawan. Keuntungan penentuan kerapatan dengan neraca Mohr-Westphal adalah penggunaan waktu yang singkat dan mudah dilaksanakan.
d.      Metode Areometer
Penentuan kerapatan dengan areometer berskala (timbangan benang, sumbu) didasarkan pada pembacaan seberapa dalamnya tabung gelas tercelup yang sepihak diberati dan pada kedua ujun ditutupp dengan pelelehan.

B.     URAIAN BAHAN
a.       Aquadest
Nama Resmi          : AQUA DESTILLATA
Nama Lain            : Air suling, air baterig, distilled water, aqua depurata
Rumus Molekul     : HO
Pemerian               : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik

b.      Alkohol
Nama Resmi          : AETHANOLUM
Nama Lain            : Alkohol, Etanol, Ethanol, Ehl alkohol, Etil alkohol, Spiritus fortior
Rumus Molekul     : CHO
Pemerian               : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan              : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api
Khasiat                  : Zat tambahan

c.       Gliserin
Nama Resmi          : GLYSEROLUM
Nama Lain                        : Gliserin, Gliserol
Rumus Molekul     : CHO
Pemerian               : Cairan seperti sirop; jernih; tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20°
Kelarutan              : Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : Zat tambahan

d.      Parafin
Nama Resmi          : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama Lain            : Liquid paraffin, Liquid petrolatum, Mineral oill, Oleum vaselini, Paraffin oil, Parafin cair, Petrolatum album, White minerale oil
Pemerian               : Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa
Kelarutan              : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat                  : Laksativum

e.       Minyak kelapa
Nama Resmi          : OLEUM COCOS
Nama Lain            : Minyak kelapa, Coconut oil, Cocosvet, Klapperolie, Minyak manis, Oleum cocoas
Pemerian               : Cairan jernih; tidak berwarna atau kuning pucat; bau khas, tdak tengik
Kelarutan              : Larut dalam 2 bagian etanol (95%) P pada suhu 60°; sangat mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk
Khasiat                  : Zat tambahan















BAB III
METODE KERJA

A.    ALAT DAN BAHAN
a.       Alat
-          Piknometer
-          Hidrometer
-          Termometer
-          Gelas ukur 250 ml
-          Gelas kimia
-          Tissue
-          Timbangan analitik
b.      Bahan
-          Aquadest
-          Alkohol
-          Gliserin
-          Parafin
-          Miyak kelapa

B.     CARA KERJA
a.       Mengukur massa jenis menggunakan piknometer
1)      Dibersihkan piknometer hingga tidak meninggalkan bekas tetesan air dengan cara setelah dibersihkan dengan aquadest, dibilas dengan pelarut aseton atau alkohol 96%
2)      Dipanaskan piknometer pada suhu 100°C selama 1 jam, kemudian dimasukkan ke dalam eksikator sampai dingin. Ditimbang dalam neraca analitik
3)      Diisikan air bahan yang akan diukur ke dalam piknometer hingga penuh
4)      Seluruh piknometer mencapai derajat 20° menggunakan termometer
5)      Setelah suhu mencapai tepat 25° segera piknometer ditutup dan dilap dengan kain bersih. Dibiarkan pada suhu kamar dan dtimbang secara teliti menggunakan neraca analitik
b.      Mengukur bobot jenis menggunakan hidrometer
1)      Diambil gelas ukur volume 250 ml, selanjutnya dimasukkan cairan yang akan diukur
2)      Dicari literatur di pustaka bobot jenis masing-masing sampel
3)      Dipilihlah hidrometer yang sesuai dengan Bj di pustaka
4)      Hidrometer yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu
5)      Dimasukkan ke dalam gelas ukur yang telah berisi cairan yang akan diperiksa
6)      Dicatat angka yang bertanda tepat di permukaan cairan. Angka tersebut menunjukkan bobot jenisnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    TABEL PENGAMATAN
a.       Piknometer
No.
Nama Sampel
Volume Piknometer (ml)
Berat Piknometer Kosong (gram)
Berat Pikno + Sampel (gram)
Mj
Bj
1.
Aquadest
10 ml
13,47 g
23,01 g
0,954 g/ml
0,954
2.
Alkohol
25 ml
16,41 g
36,87 g
0,8184 g/ml
0,8184
3.
Gliserin
50 ml
25,89 g
81,90 g
1,1201 g/ml
0,8184
4.
Parafin
25 ml
18,01 g
38,68 g
0,8268 g/ml
0,8268
5
Ol. Cocos
50 ml
25,85 g
70,80 g
0,899 g/ml
0,899

b.      Hidrometer
No.
Nama Sampel
Bj (Pustaka)
Bj Percobaan
1.
Aquadest
0,9 – 1
0,96
2.
Alkohol
0,8119 – 0,8139
0,775
3.
Gliserin
1,255 – 1,266
1,11
4.
Parafin
0,870 – 0,890
0,81
5.
Ol. Cocos
0,940 – 0,950
0,87

B.     PEMBAHASAN
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal.  Penting untuk membedakan antara kerapatan dan bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu bobot zat per satuan volume. Misalnya, satu mililiter raksa berbobot 13,6 g, dengan demikian kerapatannya adalah13,6 g/mL. Jika kerapatan dinyatakan sebagai satuan bobot dan volume, maka bobot jenis merupakan bilangan abstrak.
Dalam bidang farmasi bobot jenis dan rapat jenis suatu zat atau cairan digunakan sebagai salah satu metode analisis yang berperan dalam menentukan senyawa cair, digunakan pula untuk uji identitas dan kemurnian dari senyawa obat terutama dalam bentuk cairan, serta dapat pula diketahui tingkat kelarutan/daya larut suatu zat.
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah piknometer. Piknometer digunakan untuk mencari bobot jenis. Piknometer biasanya terbuat dari kaca untuk erlenmeyer kecil dengan kapasitas antara 10ml-50ml.
Untuk melakukan percobaan penetapan bobot jenis, piknometer dibersihkan dengan menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan etanol untuk mempercepat pengeringan piknometer kosong tadi. Pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa dari permbersihan, karena biasanya pencucian meninggalkan tetesan pada dinding alat yang dibersihkan, sehinggga dapat mempengaruhi hasil penimbangan piknometer kosong, yang akhirnya juga mempengaruhi nilai bobot jenis sampel. Jadi sisa-sisa yang tidak diinginkan dapat hilang dengan baik, baik yang ada di luar, maupun yang ada di dalam piknometer itu sendiri.
Setelah piknometer dibersihkan, piknometer kemudian dikeringkan. Setelah kering piknometer ditimbang pada timbangan analitik dalam keadaan kosong. Setelah ditimbang kosong, piknometer lalu diisikan dengan sampel mulai dengan aquadest, sebagai pembanding nantinya dengan sampel yang lain.
Pengisiannya harus melalui bagian dinding dalam dari piknometer untuk mengelakkan terjadinya gelembung udara. Proses pemindahan piknometer harus dengan menggunakan tissue. Akhirnya piknometer yang berisi sampel ditimbang.
Adapun keuntungan dari penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer adalah mudah dalam pengerjaan. Sedangkan kerugiannya yaitu berkaitan dengan ketelitian dalam penimbangan. Jika proses penimbangan tidak teliti maka hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan hasil yang ditetapkan literatur. Disamping itu penentuan bobot jenis dengan menggunakan piknometer memerlukan waktu yang lama.
Penentuan bobot jenis dengan menggunakan hidrometer lebih cepat daripada penentuan bobot jenis dengan  menggunakan piknometer, tetapi biasanya dapat menunjukkan hasil yang tidak tepat. 
Pada praktikum kali ini, percobaan yang dilakukan yaitu penentuan bobot jenis dan kerapatan zat. Pada percobaan penentuan kerapatan zat, zat yang akan dihitung kerapatannya langsung dimasukkan ke dalam gelas ukur untuk mengukur volume bulk. Selanjutnya dihitung kerapatan bulk.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan beberapa zat cair yaitu aquadest, alkohol, gliserin, parafin dan minyak kelapa, diperoleh bobot jenis yang berbeda-beda dari masing-masing zat cair yang diuji.









BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa:
a.       Metode Piknometer
·         Massa jenis untuk Aquadest adalah 0,954 g/ml (Bj = 0,954)
·         Massa jenis untuk alkohol adalah 0,8184 g/ml (Bj = 0,8184)
·         Massa jenis untuk gliserin adalah 1,1202 g/ml (Bj = 1,1202)
·         Massa jenis untuk parafin adalah 0,8268 g/ml (Bj = 0,8268)
·         Massa jenis untuk oleum cocos adalah 0,899 g/ml (Bj = 0,899)
b.      Metode Hidrometer
·         Bobot jenis untuk aquadest adalah 0,96
·         Bobot jenis untuk alkohol adalah 0,775
·         Bobot jenis untuk gliserin adalah 1,11
·         Bobot jenis untuk parafin adalah 0,81
·         Bobot jenis untuk oleum cocos adalah 0,87

B.     SARAN
·         Diharapkan dalam melaksanakan praktikum, hendaknya praktikan lebih teliti dalam melakukan penimbangan
·         Praktikan lebih berhati-hati dalam menggunakan alat
·         Pembimbing lebih memperhatikan praktikan pada saat melakukan percobaan















DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta.
Raymond Arief, Nurul Hidayah Base. 2009. Praktis Farmasi. Makassar: EGC.
Arisanty, dkk. 2018. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Makassar.
Mutmainnah Rusdan. 2013. Bobot Jenis dan Kerapatan.















LAMPIRAN

A.    PIKNOMETER
a.       Aquadest
Volume Piknometer (ml)         = 10 ml
Berat Piknometer Kosong (g) = 13,47 g
Berat Pikno + Sampel (g)        = 1. 22,01 g
                                                   2. 23,01 g
                                                   3. 23,02 g
                                                           
                                                Ƹ =  23,01 g
Mj                                           
                                               
                                                                = 0,954 g/ml
Bj                                           
                                               
                                                = 0,954

b.      Alkohol
Volume Piknometer (ml)               =  25 ml
Berat Piknometer Kosong (g)       = 16,41 g
Berat Pikno + Sampel (g)              = 1. 36,86 g
                                                         2. 36,88 g
                                                         3. 36,88 g
                                                     
                                                      Ƹ =  36,87 g
Mj                                                 
                                                     
                                                                        = 0,8184 g/ml
Bj                                                 
                                                     
                                                      = 0,8184

c.       Gliserin
Volume Piknometer (ml)               = 50 ml
Berat Piknometer Kosong (g)       = 25,89 g
Berat Pikno + Sampel (g)              = 1. 81,90 g
                                                         2. 81,89 g
                                                         3. 81,90 g
                                   
                                                      Ƹ =  81,90 g
Mj                                                 
                                                     
                                                                        = 1,1202 g/ml
Bj                                                 
                                                     
                                                      = 1,1202


d.      Parafin
Volume Piknometer (ml)               = 25 ml
Berat Piknometer Kosong (g)       = 18,01 g
Berat Pikno + Sampel (g)              = 1. 38,68 g
                                                         2. 38,73 g
                                                         3. 38,68 g
                                                     
                                                      Ƹ =  38,68 g
Mj                                                 
                                                     
                                                                        = 0,8268 g/ml
Bj                                                 
                                                     
                                                      = 0,8268
e.       Ol. Cocos
Volume Piknometer (ml)               = 50 ml
Berat Piknometer Kosong (g)       = 25,85 g
Berat Pikno + Sampel (g)              = 1. 70,83 g
                                                         2. 70,76 g
                                                         3. 70,80 g
                                                     
                                                      Ƹ =  70,80 g
Mj                                                 
                                                     
                                                                        = 0,899 g/ml
Bj                                                 
                                                     
                                                      = 0,899

B.     HIDROMETER
a.       Alkohol
= 0,75 – 0,8 (Berimpit di skala 5)
·         0,75 + = 0,775
·         0,8 -  = 0,775

b.      Aquadest
= 0,95 – 1 (Berimpit di skala 2)
·         0,95 +  = 0,96
·         1 -  = 0,96
c.       Gliserin
= 1,1 – 1,2 (Berimpit di skala 1)
·         1,1 +  = 1,11
·         1,2 -  = 1,11
d.      Parafin
= 0,8 – 0,85 (Berimpit di skala 2)
·         0,8 +  = 0,81
·         0,85 -  = 0,81
e.       Ol. Cocos
= 0,85 – 0,9 (Berimpit di skala 4)
·         0,85 +  = 0,87
·         0,9 -  = 0,87




Tidak ada komentar:

Posting Komentar