Cinta
yang Mendua
Karya : Elsa A.
Di kota Jakarta
terdapat sebuah sekolah yang bisa dikatakan Go Internasional, SMA High School.
Di sekolah tersebut terjalinlah persahabatan antara siswanya, Bagas, Chindai,
Gilang, Marsha, dan Rafli. Namun semuanya berubah setelah kedatangan Chelsea,
yang menjadi awal renggangnya persahabatan mereka. Dalam perhabatan tersebut
timbul pengkhianatan dari Bagas dan Chelsea yang telah mengkhianati Chindai.
Bagas dan Chindai adalah sepasang kekasih sekaligus menjadi salah satu
sahabatnya. Namun akhirnya harus berpisah.
Bagas : “Assalamu’alaikum
semuanya...............”. (Teriak Bagas saat memasuki kelasnya)
Sahabat : “Waalaikum salam......”
Rafli : “Cieeee.... tumben tuh datang
sekolah pagi banget, happynya pakek banget lagi, gak kayak biasanya”
Bagas : “Yeeee.... masalah gitu buat lo??”
Marsha : “Yeee.... orang lagi serius, eh
jawabnya gitu amat”. (Dengan tampan cemberut)
Bagas : “Kok lo yang sewot sih Sha”
Chindai : “Kayak gak tahu aja lo Gas!”
Marsha langsung
memasang mimik wajah galak dengan tatapan tajam ke arah Chindai. Chindai yang
melihat mimik wajah Marsha hanya bisa nyengir.
Sahabat : “Heran gue!!!”
Tiba-tiba mereka semua dikagetkan
oleh kedatangan Gilang, sang ketua kelas yang juga mencintai seorang Chindai
Rianti, yang merupakan kekasih dari Bagas Rahman.
Gilang : “Assalamu’alaikum teman-teman”.
(Datang dengan ngos-ngosan)
Sahabat : “Waalaikum salam wr.wb.!! Lo kenapa
Lang?? Kok datang kayak orang dikejar anjing sih??”
Gilang : “Ada info baru guys!!”
Marsha
: “Apa.. apa..??” (Tanya Marsha
dengan antusias)
Gilang : “Tadi gue lewat depan ruang guru, gak
sengaja gue denger katanya nanti ada siswa baru di kelas kita”. (Jawab Gilang
yang masih ngos-ngosan)
Bagas : “Cewek apa cowok?? Kalo cewek cantik
kagak?”. (Tanya Bagas dengan bertubi-tubi)
Chindai : “Bagas.......!!”. ( Teriak Chindai,
Bagas hanya nyengir)
Sahabat : “Hahahahahah.......”
Rafli : “Makanya Gas jadi orang jangan
playboy. Kayak gue dong setia”. (Jelas Rafli dengan pede)
Bagas : “Emang lo punya pacar?? Hahaha...”.
(Ledek Bagas)
Sahabat : “Hahahahahaha...........”
Chindai : “Makanya buruan tembak Marsha, ntar
diambil orang loh. Hahaha”
Marsha dan Rafli terlihat sama-sama
malu.
Gilang : “Cieeee... pipi Marsha merah tuh,
kayak tomat. Hahaha..”. (Ledek Gilang)
Marsha : “Udah ah, gak lucu tahu”
Gilang : “Oke.. oke..!! Oh iya, denger-denger
sih siswa barunya cewek, tapi gue gak tau tuh cewek cantik atau gimana”
Chindai : “Eh guys!! Bu guru datang tuh!”
Semua siswa pun bergegas menuju
tempat mereka masing-masing.
Bu
Guru : “Selamat pagi anak-anak!”
Semua : “Pagi bu!”. (Jawab siswa-siswi dengan
serempak)
Bu
Guru : “Anak-anak, hari ini kita
kedatangan siswa baru pindahan dari Amsterdam, Belanda. Ayo nak perkenalkan
dirimu”
Chelsea : “Assalamu’alaikum wr.wb.!!! Perkenalkan
nama saya Chelsea Terriyanto, saya pindahan dari Amsterdam, Terima kasih!!!”.
(Ucap Chelsea dengan rama)
Semua
laki-laki yang ada di kelas itu langsung terpana melihat kecantikan Chelsea,
termasuk Bagas. Chindai yang mengetahui hal itu, merasa khawatir, takut pabila
Bagas berpaling ke lain hati.
Bu Guru :
“Chelsea.... silahkan duduk di samping Bagas!”. (Perintah bu guru sambil
menunjuk ke arah Bagas)
Chelsea :
“Baik bu”
Bagas :
“Hai Chelsea cantik..!!”
Chelsea :
“Hai Bagas”
Chelsea :
“Ehmm.... mulai deh”. (Ucap Chindai dengan cemberut)
Bagas :
“Nggak kok beb”
Chelsea hanya geleng-geleng kepala
melihat kelakuan Bagas. Tetapi ada rasa aneh yang tiba-tiba Chelsea rasakan,
begitu pun dengan Bagas.
Pelajaran pun dimulai, tak terasa
pelajaran pun berlalu, semua siswa bergegas keluar kelas menuju ke kantin
kecuali 5 sahabat dan Chelsea. Mereka pun saling berkenalan.
5 sahabat : “Hai Chels.... ke kantin bareng yuk!!”
Chelsea : “Emang boleh ya aku gabung bareng
kalian”
Bagas :
“Ya boleh dong”. (Jawab Bagas dengan tampan menggoda)
Marsha : “Yeee... Bagas naksir ya sama
Chelsea? Mau lo bawa kemana si Chindai, Gas.”
Bagas : “Nggak kok!!”
Marsha : “Udah yuk, kita ke kantin, udah
laper nih”
Rafli &
Gilang : “Iya nih, perut gue udah berkokok
nih”
Mereka semua pun menuju ke kantin.
Setelah makan, mereka pun masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Pelajaran pun berlangsung, tak terasa bel pulang pun berbunyi, semua siswa
bergegas pulang menuju ke rumahnya masing-masing.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan pun
berlalu. Bagas semakin yakin dengan perasaannya bahwa dirinya kini menyukai
Chelsea. Tetapi di sisi lain, Bagas takut mengungkapkannya kepada Chelsea,
karena dirinya juga masih terikat hubungan dengan Chindai. Berbeda dengan
Bagas, Chindai semakin hari semakin membenci Chelsea. Semua sahabatnya
sampai-sampai bingung bagaimana cara menyelasaikan permasalahan yang timbul
dipersahabatan mereka.
Chindai :
“Bagas... apa kamu suka sama Chelsea? Chelsea.... gue gak suka sama lo, Bagas
jadi berubah semenjak lo hadir di tengah-tengah persahabatan gue dan yang
lainnya. Gue benci lo Chels”. (Ucap Chindai dalam hati, kemudian menatap
Chelsea dengan tatapan benci)
Gilang : “Ndai.... lo kenapa sih? Kayaknya
lo benci banget sama Chelsea”
Chindai :
“Iya gue emang benci sama Chelsea, kayaknya Chelsea suka sama Bagas, Bagas juga
semenjak kenal dengan Chelsea dia tuh berubah banget. Setiap gue minta Bagas
buat nemenin gue, Bagas selalu saja punya banyak alasan. Dan lebih parahnya
lagi, itu semua karena dia janjian sama Chelsea”
Gilang :
“Ndai... coba lo lihat gue, gue uh sayang sama lo, jauh sebelum Bagas datang
dikehidupan lo. Tapi kenapa yang ada di pikiran lo itu Bagas terus. Ndai...
kapan lo balas cinta gue? Sedangkan Bagas, dia lebih mencintai wanita lain, dia
udah ngekhianatin lo Ndai...”
Tanpa
sadar, mata Chindai mengeluarkan bulir-bulir air dari pelupuk matanya.
Chindai :
“Ya Allah..... kenapa aku gak bisa membalas perasaan Gilang??”. (Gumam Chindai
dalam hati)
Di sisi lain Bagas dan Chelsea yang
menyaksikan adegan tersebut hanya bisa tersenyum miris.
Bagas : “Chels... mungkin ini sudah
saatnya kita beritahu Chindai yang sebenarnya”
Chelsea : “Tapi Gas... aku takut, kalo
Chindai tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya”
Bagas :
“Cepat atau lambat Chindai pasti akan tahu semuanya”. (Ucap Bagas meyakinkan,
Chelsea hanya mengangguk, berarti tand setuju, kemudian menghampiri Chindai dan
Gilang)
Bagas :
“Chindai..... maafin gue selama ini”
Chindai :
“Bagas.... maksud kamu apa??”. (Ucap Chindai yang hendak menghampiri Bagas lalu
menatap Chelsea dengan tatapan benci)
Bagas :
“Stop Chindai... sebenarnya gue datang kesini, gue mau ngomong hal penting.
Bener yang Gilang katakan Ndai... gue itu gak pantas buat lo, gue gak bisa gini
terus. Mendingn hubungan ini kita akhiri saja”
Chindai : “Apa ini semua karena Chelsea,
Bagas?”. (Sambil tersenyum sinis)
Chelsea yang melihat hal tersebut
hanya tersenyum kecut.
Bagas :
“Ya benar... gue suka sama Chelsea, begitupun dengan Chelsea, dia juga mencitai
aku dan itu semua sudah berlangsung lama. Hanya saja, kami menunggu waktu yang
tepat untuk mengatakannya kepada kamu Ndai...”
Chindai :
“Hahahaha... sudah gue duga. Dasar pengkhianat lo”. (Bentak Chindai, kemudian
menunjuk Chelsea)
Chelsea :
“Tapi....”
Chindai :
“Ngapain lo jawab? Gue gak minta lo buat ngejawab!”. (Bentak Chindai lagi,
sampai-sampai Chelsea kaget dan mengeluarkan air matanya. Chelsea tidak
menyangka bahwa Chindai akan semarah ini)
Bagas :
“Cukup Ndai... lihat di sana!!! Di sana ada Gilang yang sangat bahkan
sangat-sangat mencintai lo dibanding gue Ndai...”. (Ucap Bagas sambil menunjuk
ke arah Gilang)
Sejenak
Chindai menatap Gilang.
Bagas :
“Satu lagi Ndai... maafin gue, sebenarnya gue sama Chelsea udah pacaran 2 bulan
terakhir ini”. (Ucap Bagas kemudian menatap Chelsea. Chelsea hanya tersenyum)
Chelsea :
“Maafin kita Ndai... bukankah perasaan yang hanya dipaksa akan jadi tidak baik”
Chindai :
“Lo berdua jahat... (Kemudian berlari ke Gilang) Gilang... maafin gue, gue udah
nyia-nyiain lo”
Gilang :
“Ya Ndai.. gue maafin lo, asal lo janji lo gak akan membenci Bagas ataupun
Chelsea”
Chindai :
“Tapi....”
Gilang :
“Sudahlah Ndai, gak baik menyimpan dendam”
Chindai kemudian mengangguk kemudian
tersenyum. Bagas, Chelsea, Chindai, dan Gilang lalu berpelukan, sebagai tanda
damai.
Dan akhirnya Chelsea dan Bagas pun
menjalin hubungan, tanpa merasa bersalah lagi kepada Chindai. Dan kini Chindai
sudah bisa menerima kenyataan, dan menjalin hubungan dengan Gilang.
***END***
