Sabtu, 30 Januari 2016

Cerpen "Ketika Cinta Berbuah Surga"



KETIKA CINTA BERBUAH SURGA
Di Tanah Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan saleh. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas dan pemberani. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika ia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran lalu menceritakan kepadanya  kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja bernama Said itu sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya. Terkadang ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya, tiba-tiba pengawal masuk memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya. Maka ia memberi nasihat kepada anaknya,
“Said, Anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka kepadamu. Teman yang baik yang membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu bukan karena derajatmu tapi karena kemurnian cinta itu sendiri yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dan dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan membawa kalian masuk surga.”
            “Bagaimana  caranya mencari teman seperti itu Ayah?” tanya Said.
Sang aja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapa yang kau anggap cocok menjad temanmu untuk makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarlah mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu rebuslah tiga buah telur. Jika ia tetap bersabar baru hidangkanlah tiga telur itu padanya, dan lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu, syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
Said gembira sekali mendengar nasihat ayahnya. Ia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluar-keluar. Bahkan ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal. Ada yang memukul-mukul meja. Ada yang melontarkan kata-kata yang tidak tepuji, memaki-maki karena makanannya lama sekali keluarnya.
Di antara teman anak raja itu ada yang bernama Adil, anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka ia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak sebelumnya. Ia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah sebuah piring berisi tiga telur rebus. Melihat itu, Adil berkata keras,
“Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”
Adil tidak mau menyentuh telur itu. Ia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said diam saja, ia tidak perlu meminta maaf pada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan tangannya. Ia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok menjadi teman sejatinya. 
Hari berikutnya ia mengundang seorang anak saudagar terkaya. Tentu saja anak itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan banyak. Ia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya ia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya keluarlah piring dengan tiga telur rebus.
“Ini makanannya, saya ke dalam dulu memanggil air minum,” kata Said seraya meletakkan piring itu di atas meja.
Lalu ia ke dalam.
Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu per satu telur itu. Tak lama kemudian Said keluar membawa dua gelas air putih. Ia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.
“Mana telurnya?” tanya pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?!”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Ia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Karena sesungguhnya Said juga belum makan apa-apa.
Said sangat merasa jengkel dengan anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas dijadikan teman sejatinya. Akhirnya ia meminta ijin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
Mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik. Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah ia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedanfg memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubugnya. Rumah dan pakian anak itu menunjukkan ia sangat miskin. Namun wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan an kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan. Selesai shalat Said datang dan menyapa,
“Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu namamu siapa dan kau tadi shalat apa?”
“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha,”
Lalu Said meminta anak itu agar bersedia bermain-mai dengannya dan menjad temannya. Namun Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Kenapa kau membeda-bedakan orang. Semua dalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku. Kenapa tidak kita coba beberapa waktu dulu. Kau nanti bisa menilai aku cocok atau tidakjadi temanmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita berteman dengan syarat hak dan kewajiban kita sama sebagai teman seia-sekata.”
Said menyepakati syarat anak pencari kayu bakar itu. Sejak hari itu mereka bermain bersama. Pergi ke hutan bersama. Memancing bersama. Dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai. Mengajarinya menggunakan panah. Juga engajarinya memanjat pohon di hutan. Said gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya ia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubugnya. Dalam hati Said merasa kalah, sebab sebelum ia mengundang makan ia telah diundang makan. Dalam gubug mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam dan air putih. Namn Said makan dengan lahap sekali. Ingin sekali rasanya ia meminta tambah kalau tidak mengingat siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Karena itu Said cukup dengan apa yang diberikan kepadanya. Selesai makan Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu mereka kembali bermain, dan Sid banyak menemukan hal-hal yang baru di hutan yang tidak ia dapatkan di dalam istana. Ia diajari temannya itu mengenali jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan. Mana daun dan buah yang bisa dinmakan, yang bisa dijadikan obat dan yang beracun.
“Dengan mengenal baik jenis buah dan dedaunan di hutan kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Sebab persediaan makanan ada do sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu Sid tahu ilmu tidak hanya dia dapat di Madrasah seperti yang ada di ibu kota kerajaan saja. Ilmu ada dimana-mana. Bahkan ada di hutan sekalipun. Hari itu Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Tatkaah matahari sudah condong ke Barat. Said minta diri pada sahabatnya itu untuk pulang, tidak lupa Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Ia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
“Pergilah ke ibu kota, berikan kertas ini pada tentara yang kau temui disana. Ia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata Said sambil tersenyum.
Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu.

* * *

Pagi harinya anak encari kayu itu sampai juga ke istana. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Said anak raja. Pertama ia ragu masuk ke istana, tapi mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini ia berani masuk juga. Said menyambutnya dengan baik dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Ia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun anak pencari kayu bakar itu sudah terbiasa lapar. Bahkan pernah tidak makan selama tiga hari. Atau kadang hanya memakan daun-daun mentah saja. Selama menunggu ia tidak memikirkan makanan sama sekali. Ia hanya berpikir seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini tentu dunia ini akan tenteram. Selama ini ia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan sukanya hura-hura. Tapi ia menemukan seorang anak raja yang santun dan saleh.
Akhirnya keluarlah tiga butir telur masak.
Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telurnya itu, apakah akan dimakannya sendiri atau...?
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu membelah telur itu menjadi dua. Yang satu ia pegang dan yang satunya ia berikan pada Said. Tak ayal lagi, Said menangis terharu. Said lalu memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata,
“Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”
Sejak itu keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrabnya. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah Swt. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru pada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Setelah berganti-ganti bulan dan tahun, keduanya akhirnya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya Said diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada yang duanya. Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melalukan shalat tahajjud bersama dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur dan jaya. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar